Omzet meningkat belum tentu berarti bisnis siap bertumbuh. Kenali 5 tanda financial readiness yang perlu diperhatikan sebelum bisnis mengambil langkah berikutnya.
Bisnis Anda sedang bertumbuh. Tapi apakah kondisi keuangannya juga siap?
Pertumbuhan bisnis biasanya terlihat dari meningkatnya penjualan, bertambahnya pelanggan, jumlah karyawan, atau bahkan pembukaan cabang baru.
Namun, pertumbuhan tersebut dapat membawa tantangan baru apabila fondasi keuangan bisnis belum tertata.
Tidak sedikit bisnis yang memiliki aktivitas transaksi semakin besar, tetapi masih kesulitan menjawab pertanyaan ini: “Sebenarnya bisnis kita sedang berada di posisi keuangan seperti apa?”
Financial readiness membantu bisnis memiliki dasar informasi keuangan yang lebih tertata untuk memahami kondisi saat ini dan mempersiapkan langkah berikutnya.
Berikut lima tanda yang perlu diperhatikan.
1. Anda Tahu Omzet, Tapi Tidak Tahu Laba Sebenarnya
“Omzet bulan ini Rp500 juta.”
Pertanyaan berikutnya:
“Lalu laba bersihnya berapa?”
Kalau jawabannya masih harus membuka banyak file, menghitung ulang, atau bahkan menggunakan perkiraan, ini dapat menjadi tanda bahwa informasi keuangan belum cukup siap untuk mendukung pengambilan keputusan.
Omzet menunjukkan nilai penjualan. Namun, omzet tidak secara otomatis menunjukkan:
– laba,
– arus kas,
– posisi aset,
– kewajiban,
– atau kemampuan bisnis membiayai aktivitasnya.
Yang perlu diperhatikan adalah bisnis perlu memiliki informasi yang dapat membantu manajemen memahami:
Revenue → Cost → Profit → Cash Flow
2. Uang Pribadi dan Uang Bisnis Masih Bercampur
Contohnya: Rekening perusahaan digunakan untuk membayar kebutuhan pribadi.
Atau: Pemilik memasukkan uang pribadi ke bisnis tanpa pencatatan yang jelas.
Ketika transaksi pribadi dan bisnis bercampur, pemilik dapat semakin sulit mengetahui kondisi bisnis yang sebenarnya.
Dampaknya antara lain:
– saldo kas sulit dianalisis,
– transaksi sulit ditelusuri,
– pengeluaran bisnis dan pribadi bercampur,
– laba dapat sulit dipahami,
– proses pencatatan dan pelaporan menjadi lebih kompleks.
Financial readiness dimulai dari fondasi sederhana, yaitu pisahkan uang bisnis dan uang pribadi.
3. Piutang dan Persediaan Ada, Tetapi Tidak Jelas Posisi Sebenarnya
Bisnis bisa mencatat penjualan besar, tetapi sebagian penjualan tersebut mungkin belum diterima dalam bentuk kas.
Begitu juga dengan persediaan.
Secara sederhana:
Barang masih ada secara fisik, tetapi catatan persediaannya tidak diperbarui secara memadai.
Atau: Piutang tercatat, tetapi tidak diketahui mana yang masih lancar dan mana yang perlu ditindaklanjuti.
Ini penting karena laba, piutang, persediaan, dan kas saling berkaitan tetapi bukan hal yang sama.
Pertanyaan yang perlu bisa dijawab:
– Berapa total piutang saat ini?
– Siapa pelanggan yang masih memiliki saldo?
– Berapa umur piutang?
– Berapa nilai persediaan?
– Apakah catatan sesuai dengan kondisi sebenarnya?
4. Laporan Keuangan Baru Dibuat Ketika Ada yang Meminta
Misalnya: “Laporan keuangan diperlukan untuk pengajuan pinjaman.”
atau: “Buat laporan dulu karena auditor akan datang.”
Jika laporan keuangan hanya disiapkan ketika ada kebutuhan tertentu, manajemen mungkin kehilangan kesempatan menggunakan informasi keuangan sebagai alat pengambilan keputusan rutin.
Idealnya, laporan keuangan tidak hanya menjadi dokumen administratif.
Laporan tersebut dapat membantu menjawab:
– Apakah bisnis mampu membiayai rencana berikutnya?
– Apakah penjualan meningkat?
– Apakah margin berubah?
– Biaya apa yang meningkat?
– Bagaimana posisi kas?
– Bagaimana posisi utang dan piutang?
5. Keputusan Bisnis Masih Banyak Mengandalkan Perkiraan
“Kayaknya bulan depan bisa buka cabang.”
“Kayaknya cash flow cukup.”
“Kayaknya harga ini masih menguntungkan.”
Masalahnya bukan pada intuisi bisnis.
Pengalaman pemilik tetap penting.
Namun, semakin besar bisnis, semakin penting keputusan didukung oleh informasi yang dapat dianalisis.
Sebelum mengambil keputusan seperti:
– membuka cabang,
– menambah karyawan,
– membeli aset,
– mengambil pinjaman,
– mengubah harga,
– atau meningkatkan kapasitas produksi,
Manajemen perlu mempertimbangkan kondisi keuangan dan proyeksi yang relevan.
Sudah Siap Secara Finansial untuk Langkah Berikutnya?
Jadi, apakah bisnis Anda sudah Financially Ready?
Financial readiness bukan berarti bisnis harus sempurna.
Yang lebih penting adalah bisnis memiliki fondasi informasi keuangan yang memadai untuk memahami kondisi dan mendukung keputusan.
Coba tanyakan kepada diri sendiri:
Apakah saya bisa menjawab dengan cepat:
☐ Berapa laba bisnis saya?
☐ Berapa kas yang tersedia?
☐ Berapa piutang yang belum tertagih?
☐ Berapa nilai persediaan?
☐ Berapa kewajiban bisnis?
☐ Apakah laporan keuangan tersedia secara rutin?
☐ Apakah data keuangan dapat ditelusuri dan didukung dokumen?
Jika sebagian besar jawabannya masih “belum tahu”, mungkin sudah waktunya mengevaluasi financial readiness bisnis Anda.
KAP Tarmadan
Financial Readiness for Business Growth